Curhat apa ya untuk post pertama

by barracobarner

Sudah bikin blog baru (yang lama lupa dan terlupakan), sudah saatnya disiplin dan alokasi waktu untuk melakukan sesuatu.

Beberapa bulan lalu sempet rame mengenai posisi ini negara yang ranking sekitar 64 dari 65 alias ranking jebot, yang sempet mencengangkan bagi beberapa kalangan. Hadeugh…kemana aja ini orang?

Kalo gw lihat tulisan dan komentar di situs jejaring sosial dan media online, terkadang cari tulisan dan pendapat yang mendidik dan terdidik, mengasah dan merangsang secara intelektual, objektif dan cerdas itu seperti cari jarum dalam jerami, padalah gw habiskan 1/3 waktu (hampir setiap hari) online, baca sana baca sini, chat sana chat sini, tulis sana tulis sini (pake nama samaran ini dan itu). Secara alam bawa sadar sudah buat statistik non-ilmiah bahwa cuy…kualitas pendidikan ini negeri jauh dari harapan, beribu-ribu kilometer dari standar kompetensi dunia.

Setiap kali baca pendapat dan komentar emosional, alarm hati langsung berkata “sampah nih, lewat…, weits, idiot ini mah, lewat…”, capek deh. Terpaksa tinggalkan media lokal dan gapai situs internasional, untung ada internet (dan untung kita bisa memanfaatkannya).

Nah sekarang back to topic, PISA itu bukan yang menara miring di itali tapi studi untuk penilaian kompetensi siswa-siswi secara internasional setiap 3 tahun sekali yang mengukur kemampuan anak-anak usia 15 tahun ini dalam matematika, ilmu pengetahuan alam dan membaca. Ada juga studi lain seperti TIMMS yang mengukur kemampuan matematika siswa/siswi dan PIRLS yang ngukur kemampuan baca (halo, ini abad informasi, jadi kita bakal lebih banyak menerima informasi dari baca daripada lewat ngomong).

Hasil terakhir PISA 2012 itu menarik secara geografis: negara-negara Asia timur urutan paling atas (ok, singapura memang terletak di asia tenggara, tapi demografinya terdiri dari kebanyakan, 74.2%, etnis cina) diikuti negara-negara Eropa, paling bawah dikerubungi negara-negara timur tengah dan amerika latin…tentu dengan satu negara mengganggu suasana perdamaian kebodohan ini negara-negara muslim dan roman katolik, yakni sebuah negara bernama ‘kau sudah taulah’ yang merenggut posisi bergengsi 64 dari 65 negara (2 terbawah). Tetangga terdekat dalam rangkin kebodohan ini adalah Malaysia ranking 52. Sangat disayangkan Filipina gak ikutan padalah dia bisa jadi pasangan negara ‘kau sudah taulah’ jadi miniatur islam dan katolik di asia tenggara untuk memborong piagam terhormat top 3 dari bawah. Tapi dalam hal membaca, negara ‘kau sudah taulah’ sedikit bosan gak kebagian senyuman sehingga berontak ubah posisi: naik 3 peringkat ke 60 dari 65 negara (horeee).

Nah mengenai budaya ranking teratas dan terbawah ini ada karakteristik yang menarik: kalo ranking teratas dipenuhi oleh orang-orang asia timur yang modernis…sedangkan rangking-ranking bawah dipenuhi negara-negara agamis (yang sering kesulitan berlogika, suka minta tolong (tangan maju depan dada dan tapak menghadap ke atas), dan jarang sekali get things done dalam kerjaannya). Tapi ini negara asia timur modernis (karena yang tradisionalnya membangkitkan bayangan negara komunis, miskin, tertekan, dan secara keseluruhan: sifak jelek), juga punya kekurangan: kurang kreatif, taunya kerja atau belajar doang, kurang nikmatin hidup, dan terkenal materialistis.

Kayakna keseimbangan ada di negara-negara budaya eropa yang selain kreatif, inovatif (menghasilkan banyak karya seni, teknologi, dan sains) juga bisa nikmatin hidup, gak terlalu pelit, suka ngurus masalah kemanusiaan, lingkungan dan kebinatangan…kelemahannya tentu budaya hedonisnya, serba bebasnya, kurang hormatnya.

Nah pertanyaannya: gimana ini negara ‘kau sudah taulah’ untuk mengambil hal-hal yang positif dari masing-masing budaya itu…terutama kemampuan teknis, sains dan matematika dan verbal (membaca, menulis, mengungkap pendapat) bisa kita kejar dan adopsi. Mengingat ini jaman kompetisi, desember 2015 masuk ASEAN economic community, dalam 2-3 tahun bakal matured dan persaingan makin bebas, gila, dan brutal. Gak bisa lagi berleha-leha, gak bisa lagi bergosip ria, gak bisa lagi ngobrol – makan – tiduran – ngerokok dan ngopi. Sekarang aja persaingan sudah bikin orang stress dan gak bahagia, gimana jika levelnya ditingkatkan lagi. Terpaksa harus keluar dari comfort zone, terpaksa budaya dan kebiasaan harus diubah, dan mau tidak mau pendidikan harus ditingkatkan…

Tapi pendidikan seperti apa yang bagus? terbaik buat bangsa? kita pengen tingkatkan kemampuan berpikir, berlogika, berpendapat, menyelesaikan masalah, menemukan solusi, memperbaiki ekonomi, keluar sebagai pemenang dalam kompetisi, anak-anak bangsa berkarya dan berinovasi. Tapi kita tetap pengen ada pendidikan moral, etika, sikap hormat, budaya ketimuran, mengingat dan menghargai nenek moyang, seabstrak apapun nilai-nilai yang sering dianggap sudah saling dimengerti itu.

Setiap ganti menteri, setiap ganti pejabat, setiap ganti pengambil keputusan: rombak lagi-rombak lagi, rapat lagi, diskusi lagi, studi kasus lagi, studi kelayakan lagi, alokasikan dan buang uang anggaran lagi, tengok sana tengok sini (bila perlu studi banding ke luar negeri bawa anak isteri)…apa gak bisa ya, pak menteri, untuk lanjutkan saja kurikulum yang kemaren, ganti yang dirasa kurang, buang yang dirasa jelek, masukkan yang dirasa bagus, akomodasikan yang dirasa berharga. Jadi gak perlu dari 0 lagi gitchu.

Masa sih, bangsa, jumlah penduduk seabrek 245 juta, 80% jumlah tuh amerika, tapi secara tanah cuma 20% saja luasnya, mana pada berjejal di jawa pula…bikin ini pulau sepadet negara kecil dan kumuh kayak bangladesh -> gak satupun kedenger salah satu penduduknya jadi developer linux kernel, atawa salah satu penduduknya kedenger jadi ahli oseanografi dimana dunia kalo mau bertanya bertandang ke tempatnya, atawa salah satu penduduknya jadi … ya gitu deh, kau sudah tau arahnya.

Cemmana nih, semangat, keyakinan dan kebanggaan sudah menggebu-gebu, kemampuan dan skill ketinggalan entah dimana.

Tapi daripada putus asa dan frustasi, mending mulai dari hal kecil dulu, gimana kalo kurikulum pendidikan memasukkan unsur berpikir kritis agar rakyat jelata gak gampang percaya dukun, orang pintar, orang sakti, hantu-orang-mati-hidup-lagi, ahli nujum, surat kaleng, berita kosong, provokasi, tipu muslihat, … kau sebutlah contoh lainnya.

Kategori berikutnya adalah kemampuan praktis (problem solving) dan kemampuan akademis. Ada banyak publikasi yang memberikan penerangan, termasuk publikasi baru mengenai kemampuan problem solving siswa-siswi, dimana inggris lebih baik praktisnya dibanding akademisnya. Ranking lengkapnya bisa dari PDF ini. Dari PDF berikut kita peroleh data nasional ada 4.174.217 usia 15 tahun dimana jumlah yang mengecap sekolah minimum 1 SMP ada 3.599.844 atau 86%.

 

Advertisements