On Statistics

by barracobarner

mengenai root mean square RMS yg bukan richard m stallman tapi ukuran statistik utk kuantitas yg bervariasi nilainya, terutama yg nilainya bs negatif dan positif spt sinusoids. misalnya utk arus periodik

Pertama kita pengen cari tau statistik pendidikan negara, terutama tingkat pendidikan yg diselesaikan oleh usia 15+. Halaman ini memberikan statistik yang lebih jelas. Ada 2 elemen yang menentukan kualitas SDM nasional, yakni tingkat pendidikan dan produktivitas kerja. Hal lain yang perlu dilihat adalah jumlah kesinambungan pendidikan dari tingkat SMA ke perguruan tinggi, menurut menteri salah satu solusi yang mulai dijalankan bikin 5 uni di merauke, tarakan, bangka belitung, pangkal pinang, dan sulawesi barat. Permasalahan utama kesinambungan menengah-tinggi ini ada 3: langsung bekerja, langsung menikah, ekonomi. Tapi tentu ada faktor lain: kursi yang tidak ada, uni yang tidak ada. Memang permasalahan ini hanya bisa diselesaikan dengan melihat secara makro dari statistik, misal kepadatan penduduk dan jumlah (absolut) dan komposisi usia terdidik.

Kita bagi 3 permasalahan pendidikan:

* pendidikan dasar

* pendidikan menengah

* pendidikan tinggi

 

:: pendidikan dasar ::

masalah utama pendidikan dasar adalah kualitas pendidikan. walaupun masalah kualitas ini dialami juga oleh menengah dan tinggi, tapi lebih pronounced di pendidikan dasar. yang mempengaruhi kualitas pendidikan tentu: kualitas & kuantitas guru, kualitas & kuantitas sarana pendidikan, kurikulum.
baik pendidikan dasar-tinggi, plg penting hrs dimunculkan sense of purpose thd mateiral yg dipelajari. emosi positif hrs dilibatkan dlm pengajaran di bagian awal, selain bs mengguide (jadi waveguide), bantu fokus, juga meningkatkan semangat. abis itu hrs dimunculkan sense of achievement yg akumulasinya bs membantu psikologis siswa/i di masa datang. sop & soa. dg sop siswa/i gak lagi belajar utk ujian, dia belajar utk paham dan ada target nyata utk dicapai. terkadang utk tingkat tinggi pun, spt mhsiswa yg belajar antenna atau medan, dia belajar utk mengatasi ujian dan dapat nilai, bukannya utk paham. butuh guru berkualitas utk bisa membaca mana murid yg menuju pemahaman/pnegertian/penguasaan, jd interaksi sehari-hari akan sangat berpengaruh, spt halnya setiap proyek itu iklim suksesnya bs dirasakan jauh hari sblm proyek itu jelas gagal/suksesnya.

:: pendidikan menengah ::

banyak testing internasional yang mengukur tingkat kecakapan generasi muda (dan otomatis kemampuan bangsa) diukur pada usia pendidikan menengah. hal ini bisa dihapami krn pendidikan menengah ini adalah pertikungan jalan apakah seseorang itu akan menjadi orang yang bisa berkontribusi pada negara atau jadi sampah. di pendidikan menengah, dasar pendidikan diperkuat dan diperluas. biasanya performa di pendidikan menengah menentukan juga performa di pendidikan tinggi. oleh karenanya klasifikasi yang lebih sederhana akan menekankan: pendidikan dasar dan lanjutan dimana pendidikan menengah masuk ke pendidikan lanjutan.

jk kurikulum nasional menghilangkan pelajaran bahasa asing di pendidikan dasar, maka perlu kurikulum yang benar-benar efektif di tingkat pendidikan menengah. sebetulnya pelajaran bahasa asing lebih pantas dimasukkan ke pendidikan dasar karena usia lebih muda relatif lebih gampang menerima dan mempelajari bahasa baru. tetapi kendala nasional saat ini adlh keterbatasan dan kualitas guru. selanjutnya ini juga berhubungan dengan budaya. jika budaya kita cukup gampang menerima informasi dalam bahasa asing maka kualiatas pengajar bahasa asing akan terdongkrak, akibatnya penyampaian pelajaran bahasa asing akan lebih mudah dilakukan di tingkat dasar. tanpa guru yang cukup dan berkualitas, terkadang (mungkin) ekstra pelajaran akan menjadi beban dan berpotensi mengganggu penyerapan informasi pada pelajaran lainnya (dari beban PR, stres belajar/ujian, waktu yang terbuang, dll).

ini selangkah membantu permasalahan pendidikan menengah.
Indonesia is experimenting with an online learning program in an attempt to reduce the number of children dropping out of education.
Five schools — in Sumatra, Java, Kalimantan and West Nusa Tenggara — will take part in an “open high school” pilot program, set to begin in July this year.
Students who are not accepted in public schools can enroll, and the Ministry of Education offers incentives such as scholarships and Internet-equipped tablet computers. An estimated one million to three million Indonesian students aged 12 to 18 drop out of school every year.

:: pendidikan tinggi ::

ini adalah kunci untuk bisa bersaing dengan negara lain, baik nasional, regional maupun internasional. untuk regional ada beberapa kategori: ASEAN, dan Asia/Internasional. parameter kesuksesan pendidikan tinggi perlu dilakukan secara komparatif di luar tahap nasional. misalnya dari jumlah publikasi paper tingkat regional dan internasional, persentase pengajar terhadap mahasiswa, inovasi/produk yang dihasilkan universitas baik yg sifatnya penelitian maupun yang bisa digunakan langsung di industri (termasuk di dalamnya, misalnya produk open source yang digunakan banyak orang utk bidang IT). gak kalah pentingnya (dan belum pernah dimonitor karena nilainya akan rendah sekali) adlh jumlah alumni yg masuk ke industri-industri besar skala regional dan internasional. utk bisa memasok industri regional dan internasional memang harus terlebih dahulu bisa memasuk industri nasional, masalahnya ketidaktimpangan jurusan/pendidikan dan keberadaan/kesiapan industri bisa menjadi penghambat: misal lulusan farmasi lebih mudah mendapatkan pekerjaan di industri nasional krn keberadaan industri farmasi jauh lebih tinggi dari industri elektronika (dimana lulusan elektronika tidak punya banyak pilihan yang sesuai dengan backgroundnya, sehingga hrs beralih ke industri lain spt minyak/gas atau IT).

on kualitas guru, ini model menarik utk seorang guru.

pertama: materi singkat dan JELAS. kedua: mengajar dengan singkat dan JELAS. yg menarik adlh, walaupun singkat tetapi LENGKAP. seorang guru selain menguasai teknis materi & APLIKASI nya juga hrs punya kemampuan verbal dan imajinasi yang tinggi. ini membutuhkan dedikasi dari guru tsb thd bidang yg ditekuninya.

ini selangkah memperbaiki permasalahan pendidikan tinggi. The program, called the Indonesian Presidential Scholarship, aims to send at least 100 students abroad every year. A list of qualifying universities will be published shortly and applications for the coming academic year will close on April 20.

++++++++++++

PPPs are statistical estimates. Like all statistics they are subject to sampling errors, measurement errors, and errors of classification. Therefore, they should be treated as approximations to true values. Because of the complexity of the process used to collect the data and calculate the PPPs, it is not possible to directly estimate their margins of error. Therefore, small differences in the estimated values between economies should not be considered significant.

The ICP is designed to compare levels of economic activity across economies, expressed in a common currency, in a particular benchmark year. As such, PPP-based expenditures are not directly comparable with the 2005 ICP round estimates because they are based on two different price levels. In addition, some of the economies participating in one of these comparisons were not in the other comparison. A small number of economies moved from one region to another, and most importantly, some significant improvements in methodology were implemented in ICP 2011.

The ICP should not be used to compare changes in an economy’s PPP-based GDP over time. Experience has shown that sizeable discrepancies can arise between extrapolated estimates and a new benchmark, even when they are only a couple of years apart. The gap between the latest ICP rounds was six years, which has resulted in some very large differences for many economies between the extrapolated PPP-based expenditures for 2011 and the benchmark PPP-based expenditures that are available from ICP 2011.

http://web.worldbank.org/external/default/main?pagePK=60002244&theSitePK=270065&contentMDK=23562337&noSURL=Y&piPK=62002388

(bandingkan http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_GDP_%28PPP%29)

Main Results for the Largest Economies and Economies with Highest and Lowest GDP per capita

# Economy Shares (World = 100.0) # Economy Expenditure per capita (US$)
Expenditure Pop.
Based
on PPPs
Based
on XRs
Based
on PPPs
Based
on XRs
1 United States 17.1 22.1 4.6 1 Qatar 146,521 97,091
2 China* 14.9 10.4 19.9 2 Macao SAR, China 115,441 66,063
3 India 6.4 2.7 18.1 3 Luxembourg 88,670 111,689
4 Japan 4.8 8.4 1.9 4 Kuwait 84,058 52,379
5 Germany 3.7 5.2 1.2 5 Brunei Darussalam 74,397 42,432
6 Russian Federation 3.5 2.7 2.1 6 Singapore 72,296 51,242
7 Brazil 3.1 3.5 2.9 7 Norway 61,879 99,035
8 France 2.6 4.0 1.0 8 United Arab Emirates 60,886 42,182
9 United Kingdom 2.4 3.5 0.9 9 Bermuda 54,899 85,839
10 Indonesia 2.3 1.2 3.6

 

http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/DATASTATISTICS/ICPEXT/0,,contentMDK:22407349~pagePK:60002244~piPK:62002388~theSitePK:270065,00.html

The U.S. share of global GDP was 17.1 percent in 2011, while China was 14.9 percent, according to the ICP figures based on purchasing power parity, which seeks to compare how far money goes in each country. PPP calculates gross domestic product using exchange rates that adjust for price differences of the same goods between nations.

Yet China was well behind the U.S. based on another comparison, which looks at GDP in U.S. dollars at market exchange rates. By that approach, the U.S. share of 22.1 percent was more than double that of China’s 10.4 percent, the ICP data show.

JPMorgan Chase & Co. prefers to use market exchange rates for its “hard-nosed business cycle analysis,” said David Hensley, the bank’s director of global economic coordination in New York. That approach “gives a better sense of the resources that a country has command over.”

While JPMorgan keeps an eye on PPP comparisons as a secondary measure, it’s a hypothetical calculation which assumes one price level across all countries, Hensley said.

China will only pass the US on a particular measure of GDP that employs an artificial exchange rate called purchasing power parity (PPP). If you simply valued the two countries’ GDPs at market exchange rates, the US would stay in front of China for many years to come.

Using a PPP basis is arguably more useful when comparing generalized differences in total economic output between countries because PPP takes into account the relative costs and the inflation rates of the countries, rather than using just exchange rates which may distort the real differences in income. Economies do self-adjust to currency changes over time, and technology intensive and luxury goods, raw materials and energy prices are mostly unaffected by difference in currency (the latter more by subsidies), however this is taken into account by the price comparison surveys, such as the International Comparison Program, which are used as the basis for PPP calculations. These surveys include both tradable and non-tradable goods in an attempt to estimate a representative basket of all goods

Later this year the UK will probably overtake France and Brazil, and in PPP terms it could soon overtake Russia. This would put it in fifth according to market exchange rates and sixth on a PPP basis.

Advertisements